Kembali kepada pembahasan sebelumnya, pelaksanaan SDG 9 masih terus berkembang dan pastinya belum sempurna. Tantangan yang dihadapi antara lainnya:
- Pembangunan Infrastruktur & Industri serta penyebaran Teknologi yang masih belum merata. Terutama Pulau Jawa dan Sumatera yang masih terpusat, sehingga Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, relatif tertinggal. Hal ini berpengaruh terhadap ekonomi, sosial, serta politik dari daerah-daerah “tertinggal” tersebut. Secara sosial dan politik, teknologi komunikasi berperan penting, dan ketertinggalan dalam hal tersebut dapat membuat kesenjangan yang besar. Serta fasilitas yang belum memadai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan industri disana.
- Ketergantungan terhadap energi fosil, menghasilkan sebanyak 20-25% emisi karbon nasional, sehingga belum mencapai salah satu tujuan poin utama SDG 9 yaitu Membangun infrastruktur yang ramah lingkungan. Hal ini berhubungan dengan kondisi ekonomi di Indonesia, yang belum memungkinkan sebuah perubahan besar bagi Indonesia untuk bergeser dari penggunaan energi fosil. Hal tersebut semakin didorong oleh keunggulan tambang Indonesia dengan produksi batubara ke-3 terbanyak di dunia, sehingga secara gambaran besar belum dianggap menjadi prioritas penggunaan dana besar untuk perubahan tersebut. Serta bentuk limbah lain seperti limbah cair dari industri tekstil.
- Riset teknologi yang tertinggal, hanya 0,31% dari PDB. Hal ini sempat dipengaruhi juga oleh Pandemi Covid-19, yang menghambat proses riset teknologi terutama bidang kesehatan. Riset teknologi di Indonesia juga tertinggal, sebagian karena edukasi/pendidikan SDM Indonesia yang masih tertinggal. Bukan sebuah kebetulan bahwa daerah-daerah dengan edukasi terbaik seperti di Pulau Jawa & Sumatera, memiliki industri dan teknologi yang lebih maju. Ringkas kembali, riset dan edukasi terhadap industri dan teknologi masih tertinggal.